5 mitos tentang anak muda dan sosial mediaMenurut sebuah buku ada 5 mitos tentang anak muda dan sosial media. Saat remaja merupakan saat manusia selalu ingin tahu akan sesuatu dan tertarik pada orang lain. Remaja akan senang mendapatkan teman baru, berbagi pandangan dengan orang lain, melakukan eksperimen pada kepribadian mereka dan mengembangkan kebebasan dari orang tua. Saat ini perkembangan teknologi merubah kehidupan sosial para remaja. Orang tua yang ternyata tak bisa mengikuti perkembangan teknologi seperti anak mereka kadang khawatir dan tidak bisa mengawasi sepenuhnya. Pada buku It’s Complicated: The Social Lives of Networked Teen, penulis menyebutkan beberapa mitos tentang remaja dan kehidupan sosial mereka.

Berikut ini 5 mitos tentang anak muda dan sosial media:

Mitos #1: Teknologi menyebabkan isolasi sosial

Remaja yang sibuk dengan komputer dan ponsel mereka memang terlihat terisolasi dari kehidupan sosial, tapi sering juga tidak. Mereka menggunakan komputer dan ponsel pintar mereka untuk mengatasi isolasi sosial itu sendiri. Melalui internet mereka berkomunikasi dengan teman mereka yang jauh jaraknya, atau bahkan dengan orang asing yang tidak mereka kenal. Remaja saat ini memang terlihat lebih tertarik dengan kehidupan sosial yang tidak nyata, tapi mereka menemukan kehidupan sosial yang baru. Studi menyebutkan remaja saat ini terlalu sibuk karena padatnya kegiatan sekolah dan aktivitas tambahan lainnya. Komunikasi dengan teman malah terasa lebih dekat dengan menggunakan sosial media daripada berbicara langsung. Orang tua tentunya harus tetap memastikan kehidupan sosial anak-anaknya tidak benar-benar terputus dari kehidupan nyata dan juga kehidupan sosial mereka di dunia maya adalah kehidupan sosial yang sehat.

Mitos #2: Remaja kecanduan teknologi dan sosial media

Remaja yang berlama-lama di depan komputer untuk bermain games dan bersosial media memang tampak seperti orang yang kecanduan. Remaja menghabiskan waktu berlama-lama di depan komputer atau ponsel pintar mereka karena mereka senang dengan kegiatan tersebut. Istilah kecanduan mungkin kurang tepat tapi lebih pada manajemen waktu yang tidak baik. Mereka lupa waktu saat melakukan kegiatan yang mereka senangi tersebut.

Mitos #3: Remaja sekarang tidak memilki apresiasi terhadap privasi

Orang tua sering menyatakan bahwa remaja sering menaruh informasi mereka di media sosial padahal harusnya informasi tersebut seharusnya disimpan saja sebagai privasi. Kebalikannya, remaja malah mengatakan mereka menggunakan sosial media untuk privasi mereka. Definisi privasi antara orang tua dan remaja berbeda. Privasi menurut remaja saat ini adalah menjauh dari orang tua, guru, dan orang-orang yang selama ini terkesan memberikan perintah dan aturan pada mereka. Mereka tidak ingin terganggu oleh orang tua saat bermain sosial media. Beberapa orang tua saat ini mulai bermain Facebook dan anak mereka kebanyakan tidak menyukainya dan mulai beralih ke media sosial lainnya seperti Twitter, Path, Instagram dan Tumblr.

Mitos #4: Sosial media dapat membuat remaja memiliki risiko yang tinggi terhadap predator seksual

Sosial media membuat remaja dapat mengenal orang asing. Para predator seksual juga banyak yang mencari mangsa di dunia maya, itu pandangan orang tua. Keadaan tersebut sebenarnya tidak sepenuhnya benar karena predator seksual tidak hanya ada di dunia maya. Faktanya kekerasan seksual pada anak lebih sering dilakukan oleh orang yang telah mengenal mereka sehari-hari seperti kerabat, tetangga, keluarga, dan teman. Walaupun juga ada juga beberapa kasus predator seksual dari dunia maya.

Mitos #5: Bullying melalui sosial media adalah problem nasional besar

Bullying di sosial media dianggap berbahaya oleh orang tua. Memang ada cyber bullying tapi itu biasanya tidak sering terjadi pada remaja. Bullying pada remaja lebih sering mendapatkan bullying di sekolah atau lingkungannya. Di dunia maya, mereka bahkan bisa menjadi orang yang membully orang lain.

Itulah 5 mitos tentang anak muda dan sosial media yang dapat dikatakan tidak tepat.