Jenazah Korban Pesawat Air Asia
lensaindonesia(com)

Dari tujuh jenazah korban pesawat Air Asia QZ8501 yang ditemukan KRI Bung Tomo, kondisi salah satunya sangat memprihatinkan. Jenazah tersebut diangkut ke KRI Banda Aceh dari KRI Bung Tomo, Sabtu (3/1/2015) untuk diterbangkan ke Pangkalan Bun menggunakan helikopter.

Ketika diangkut, terlihat jenazah sudah tidak utuh. Namun ada bukti identitas yang dapat digunakan sebagai keterangan yang yang tertempel pada kantong jenazah. Jenazah tersebut berjenis kelamin laki-laki, berusia sekitar 25 tahun dan tinggi badan 183 cm. Jenazah tersebut mengenakan baju kaos berwarna merah dengan lengan putih dan bertuliskan “England”. Namun baju tersebut hanyut saat proses evakuasi.

Jenazah itu juga menggunakan celana jeans biru dengan merk Lois, sabuk kulit dengan gesper Lois berwarna hitam, dan sepatu merk Caterpillar warna cokelat. Kondisi wajah jenazah sudah rusak sehingga tidak dapat dikenali.

Jenazah lain dapat diidentifikasi karena pada jenazah tersebut terdapat KTP atas nama Brian Yuvito (25). KTP tersebut ditemukan dalam dompet korban. Selain menyampaikan penemuan KTP atas nama Brian Youvito pada jenazah tersebut, Basarnas juga memaparkan cirri-ciri jenazah seperti tinggi badan sekitar 165 cm.

Jenazah tersebut juga menggunakan kaos berwarna putih dengan merk Guitar Jeans dan tulisan Order is Important, ikat pinggang hitam dengan huruf H, celana jeans hitam, dan tanpa menggunakan alas kaki. Di leher jenazah juga terdapat kalung tali dengan warna merah dan dengan liontin batu cincin berwarna coklat tua. Selain dompet, pada jenazah ini juga ditemukan handphone dengan merk Blackberry berwarna hitam. Kondisi kepala jenazah ini sudah tidak utuh sehingga sulit untuk diidentifikasi.

Sama halnya dengan jenazah yang lain, jenazah ini juga dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Bersama dengan jenazah-jenazah lain, dua jenazah tersebut diangkut dari KRI Banda Aceh ke KRI Bung Tomo pada Sabtu (3/1/2015) pagi yang selanjutnya diterbangkan ke Pangkalan Bun dengan menggunakan helikopter.

Jenazah-jenazah korban pesawat Air Asia QZ8501 memang kebanyakan sudah dalam kondisi rusak dan memprihatinkan. Hal inilah yang membuat tim DVI kesulitan untuk mengientifikasi para korban.