Menunggu Momen yang Tepat
tempo(co)

Ketua KPK Abraham Samad sudah ditetapkan sebagai tersangka sejak 9 Februari 2015. Akan tetapi, Polda Sulawesi Barat baru mengumumkannya hari ini, Selasa (17/2/2015). Dengan kata lain, penetapan ini dilakukan sehari setelah “kemenangan” calon tunggal KApolri Komjen Pol Budi Gunawan dalam sidang praperadilan di PN Jakarta Selatan. Fakta ini kemudian melahirkan sebuah pertanyaan, apakah pengumuman status tersangka Abraham Samad ini memang menunggu momen yang tepat yaitu pada saat kemenangan Budi Gunawan?

Terkait hal ini, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Sulselbar Komisaris Besar Endi Sutendi langsung membantahnya.

Tidak ada momen mengumumkan penetapan tersangka Abraham. Memang pada tanggal 9 Februari lalu ditetapkan tersangka. Tapi, penyidik masih melakukan pemeriksaan saksi-saksi tambahan. Hal itu dilakukan penyidik setelah dilakukan gelar perkara dan berkoordinasi dengan Bareskrim Mabes Polri,” kilahnya dalam sebuah konferensi pers di Markas Polda Sulselbar, Selasa (17/2/2015) pagi.

Endi juga menjelaskan, penyidikan terhadap dugaan pemalsuan dokumen tersebut dengan tersangka Abraham Samad bersama rekannya digulirkan berdasarkan adanya laporan kepada pihak kepolisian.

Memang banyak kasus pemalsuan dokumen berupa KTP atau KK, tetapi penyelidikan kita berdasarkan laporan,” ujar Endi.

Penatapan status tersangka Abraham Samad dan Feriyani Lim selaku pemohon pemalsuan dokumen tidak diikuti status penetapan tersangka terhadap UKi. Padahal, Uki juga ikut dilaporkan dalam kasus tersebut. Perihal ini, Endi mengatakan bahwa belum ditetapkannya Uki sebagai tersangka disebebkan oleh penyidikan yang dilakukan oleh polisi belum selesai.

Kita belum tetapkan Uki sebagai tersangka. Untuk penetapan Uki, ya tergantung penyidik di Polda Sulselbar dengan koordinasi Mabes Polri,” tambahnya.

Diberitakan sebelumnya, Feriyani Lim, menjadi tersangka pemalsuan dokumen paspor. Tahun 2007 lalu, Feriyani Lim memalsukan dokumen dengan masuk dalam KK (Kartu Keluarga) Abraham Samad untuk membuat paspor. Kasus pemalsuan dokumen tersebut baru dilaporkan oleh Chairil Chaidar Said ke Bareskrim Mabes Polri, 29 Januari 2015 lalu. Kemudian penyidik Polri melimpahkan kasus ini kepada Polda Sulawesi Barat.

Dalam laporan tersebut, Feriyani Lim dinilai telah memalsukan dokumen dengan dibantu oleh Abraham Samad dan rekannya, Uki. Setelah Polda Sulselbar memeriksa enam orang saksi, penyidik kemudian menetapkan Feriyani Lim sebagai tersangka.