Habib Novel Bamukmin

Polda Metro Jaya telah menetapkan Habib Novel Bamukmin alias NB sebagai buronan dan masuk dalam daftar Pencarian Orang (DPO). Habib Novel seharusnya telah menyerahkan diri Sabtu (4/10/2014), tapi ia tidak datang. Ditetapkannya Habib Novel sebagai tersangka terkait dengan adanya aksi anarkis Ormas Front pembela Islam (FPI). Aksi anarkis ini terjadi pada hari Jumat (3/10/2014) kemarin.

Saat ini masih dicari ke beberapa tempat dan belum ditemukan,” ujar Kombes Pol Rikwanto, Kabid Humas Polda Metro Jaya di Mapolda Metro Jaya, Minggu (5/10/2014).

Dalam aksi ini, Habib Novel Bamukmin menjadi koordinator lapangan (Korlap) demo FPI. Ia juga yang mengajukan pemberitahuan aksi ini pada pihak kepolisian.

Dia (Habib Novel) penanggung jawab dan yang memberitahukan aksi termasuk jumlah pendemo. Dia dikenakan Pasal 160 KUHP, tentang penghasutan,” tambahnya.

Sebagai informasi, Front Pembela Islam (FPI) melakukan aksi anarkis di depan gedung DPRD, Jumat (3/10/2014) lalu. Aksi ini juga dilakukan di depan Balai Kota DKI Jakarta. Ketika melakukan unjuk rasa, mereka menggunakan senjata tajam. Tak hanya itu, mereka juga melempari petugas dengan batu dan kotoran sapi. Akibatnya, sekitar 16 anggota polisi terluka dan dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

Setelah kejadian aksi anarkis ini, kepolisian kemudian mengamankan sekitar 22 orang anggota FPI. Pemeriksaan pun dilakukan selama 1×24 jam. Setelah ke-22 orang ini diperiksa, penyidik menetapkan ada 21 orang yang menjadi tersangka. Empat diantara 21 tersangka ini ternyata masih di bawah umur.

Selain 21 tersangka ini, masih ada satu orang yang menjadi buron dan masuk ke dalam DPO (Daftar Pencarian Orang) yaitu Habib Novel Bamukmin. Ia adalah koordinator lapangan (Korlap) dalam aksi ini. Satu orang lagi yang diamankan dari markas FPI ini yaitu Irwan. Ia adalah penanggung jawab aksi FPI ini dan statusnya masih sebagai saksi.

Para tersangka ini dijerat dengan pasal 214 ayat 1 dan ayat 2 KUHP dan atau pasal 170 ayat 1 dan ayat 2 KUHP dan atau pasal 160 KUHP dan atau pasal 406 KUHP Juncto pasal 55 KUHP. Mereka terancam hukuman minimal 5 tahun penjara.