Gubernur DKI Jakarta Langsung Diserang
kompas(com)

Basuki Tjahaja Purnama terlihat kembali beraktivitas di kantornya, Balai Kota, Jakarta, Kamis (12/3/2015) pagi tadi. Sebelumnya Basuki (Ahok) dikabarkan sakit dan tidak bisa bekerja selama tiga hari setelah terserang penyakit demam berdarah. DI hari pertamanya ini, Gubernur DKI Jakarta langsung diserang setumpukan dokumen.

Meskipun masih terlihat pucat, namun Ahok sangat bersemangat saat menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh para wartawan di Balai Kota. Ahok tiba di Balai Kota sekitar pukul 08.15 WIB. Ia langsung tersenyum kepada wartawan yang telah menunggunya di pendopo Balai Kota.

Ayo saya jawab yang mana dulu nih?” ujar Ahok pada wartawan.

Wartawan kemudian bertanya tentang kesehatannya. Pria mantan Bupati Belitung Timur itu mengaku memang sudah sembh dari penyakit demam berdarah. Dokter yang merawatnya menyatakan bahwa Ahok sudah sehat dan dapat beraktivitas seperti semula.

Trombosit saya sudah naik dan leukosit saya sudah turun, dan kata dokter sudah boleh pulang. Kemarin dirawat di rumah sakit, rahasia (rumah sakitnya),” jelas Basuki.

Lantas, mengapa Basuki hanya istirahat selama 3 hari? Padahal untuk seseorang yang terserang demam berdarah, waktu istirahat umumnya 7 hari. Meskipun terlihat pulih, namun masih terlihat bintik-bintik merah terutama di bagian leher Ahok. Selain itu, tercium juga aroma obat.

Nyamuknya gigitnya kurang kuat. He-he-he,” ujar Basuki sembari tertawa.

Setelah tiga hari tidak masuk kerja, Gubernur DKI Jakarta langsung diserang tumpukan dokumen. Dokumen-dokuman yang mesti dipelajari dan ditandatangani oleh Ahok telah mencapai 500 dokumen lebih. Tumpukan dokumen tersebut diimpan di ruang Tata Usaha (TU) Gubernur DKI. Dokumen-dokumen tersebut berasal dari lembaga swasta, satuan kerja perangkat daerah, lembaga swadaya masyarakat, dan perseorangan.

Seorang staf Sekretariat Gubernur, Maruhal menuturkan, setiap hari Gubernur DKI Jakarta harus menandatangani sekitar 200 dokumen.

Selama Bapak enggak masuk, ada beberapa surat. Misalnya dari Kemendagri tentang penganggaran 2016 sama ada dari Kemenkeu juga. Paling banyak sih pengaduan warga, misalnya sengketa tanah atau yayasan minta bantuan,” jelas Maruhal, Rabu (11/3/2015).

Dokumen yang harus dipelajari dan ditandatangani oleh Ahok tersebut diantaranya aduan warga tentang Ketua RW yang tidak membayar gaji RT Perumahan Green garden; dokumen permohonan bantuan seperti permohonan bantuan dana ekspedisi ke gunung di Nepal yang memerlukan biaya hingga Rp. 14 juta. Sebelum dibaca dan ditandatangani oleh Gubernur DKI, dokumen-dokumen tersebut harus disimpulkan dulu oleh staf TU Gubernur. Khusus untuk aduan, Ahok akan meminta stafnya untuk melihat dulu ke lapangan. Jika memang memerlukan bantuan, ia akan langsung membantu.