kurikulum 2013
tempo.co
Masalah pelaksanaan kurikulum 2013 apakah akan dilanjutkan ataukah dihentikan masih menuai kontroversi. Meski banyak yang mengatakan kurikulum 2013 banyak kekurangan, toh banyak juga yang mendukungnya dengan alasan kurikulum 2013 bisa meningkatkan kompetensi siswa.

Permasalahan kurikulum 2013 ini sebenarnya sudah mencuat cukup lama di dunia pendidikan Indonesia, bahkan sejak Mendikbud periode yang lalu. Agaknya masalah kurikulum 2013 ini akan tetap menjadi duri dalam daging di dunia pendidikan Indonesia. Bagaimanakah nasib kurikulum 2013 di masa pemerintahan yang baru sekarang ini? Apakah akan dipertahankan ataukah tidak?

Setidaknya ada yang bisa memberikan penjelasan jika memang kurikulum 2013 sebaiknya dihentikan saja. Seperti yang dikemukakan oleh AIPI. Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) berpendapat bahwa Kurikulum 2013 tidak jelas konsepnya. Kurikulum 2013 juga dinilai tidak mengedepankan nalar kritis lantaran di buku ajar banyak terdapat kata ‘mengagumi’.

“Kurikulum 2013 tidak dibangun atas prinsip ilmu pengetahuan yang mengedepankan nalar kritis, melalui penggunaan kata ‘mengagumi’ yang mendominasi isi kurikulum,” jelas AIPI dikutip dari rilis Kemendikbud berjudul Seputar Keputusan Mendikbud tentang Penghentian Kurikulum 2013, Senin (8/12/2014).

Kurikulum 2013, imbuh AIPI, juga tidak mencerminkan terbentuknya kompetensi berdasarkan asas spesifik, terukur, dapat dicapai, realistis, dan mempunyai batasan waktu (specific, measurable, attainable, relevant, time-¬bound) serta tak menggunakan prinsip kesetaraan gender, prinsip keberagaman dan kebhinnekaan Indonesia.

“Kurikulum 2013 tidak mendorong terwujudnya tujuan bernegara yaitu “mencerdaskan kehidupan bangsa” yang berdasarkan Pancasila dan tidak mendorong terbentuknya budaya ilmiah,” demikian kata AIPI.

AIPI juga menemukan ketidakjelasan konsep yang digunakan dalam kurikulum yang tergambar dalam kerancuan bahasa, rumusan tidak operasional/logis, serta tidak menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam naskah kurikulum tingkat SD, SMP maupun SMA. Atas temuan kelemahan-kelemahan itu, AIPI merekomendasikan tindak lanjut menyusun kajian filosofis dan pedagogis mendalam tentang Kurikulum 2013.

“Mengubah Kurikulum 2013 sesuai dengan hasil kajian filosofis dan pedagogis tersebut dan mendorong Pemerintah untuk secara terus menerus melakukan perbaikan Kurikulum dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan,” tutur AIPI.