Makloon

Bagaimana perkembangan jasa makloon jahit saat ini? Sub kontrak yang sudah tak asing lagi dalam kegiatan usaha, secara sederhana bisa diartikan sebagai pelimpahan sebagian atau keseluruhan pekerjaan pada pihak lain. Pelimpahan seperti ini, biasanya dilihat dan bekerja dalam tataran produksi. Sementara kegiatan produksi tentunya akan berlangsung setelah ada transaksi.

Pelimpahan tersebut, bisa juga dikatakan sebagai pembagian atau membagi pekerjaan pada pihak lain. Maka, sub kontrak kemudian bisa diartikan sebagai pelimpahan atau pembagian tanggung jawab pekerjaan dari pihak pertama, (yang memiliki kontrak dengan pelanggan), kepada pihak lain yang memiliki sumbe rdaya. Dengan demikian, ada kontrak-kontrak lain yang terpicu oleh satu transaksi dan melahirkan transaksi-transaksi berikutnya dalam upaya untuk menyelesaikan pekerjaan. Kontrak dan transaksi turunan inilah yang kemudian dipahami sebagai sub kontrak.

Masih berbicara tentang usaha pakaian jadi di seputaran Jalan Surapati, Bandung. Kita mungkin akan banyak melihat papan nama bertuliskan “Makloon” di samping “Terima Pesanan” atau “Mengerjakan”. Istilah tersebut adalah istilah yang ditautkan pada kata jahit, sablon dan sebagainya yang menunjukkan proses produksi. Semisal, “Terima makloon jahit”, “Terima Pesanan Kaos, Jaket …”, dan seterusnya.

Uniknya, papan nama tersebut seolah berlaku untuk setiap unit usaha yang ada dalam sistem usaha pakaian jadi di wilayah ini. Efeknya adalah, setiap unit usaha akan memiliki kemungkinan yang sama untuk menjadi pihak pertama dalam jejaring produksi.

Usaha jahit yang pada kenyataannya hanya memiliki aset yang berkaitan dengan jahit, ternyata sanggup menerima beragam order pakaian yang di dalamnya ada gambar bersablon atau bordir. Kesanggupan seperti ini, tentunya hanya bisa terjadi jika pengusaha tersebut memiliki hubungan yang kuat dengan unit usaha lainnya.

Dalam kerangka hubungan, pengusaha jahit adalah pihak pertama yang berhubungan langsung dengan pelanggan dalam sebuah transaksi, yang bisa disebut sebagai kontrak. Kontrak inilah yang kemudian disebut sebagai tanggung jawab dari pengusaha jahit.

Karena dalam kenyataannya pengusaha jahit hanya memiliki faktor produksi yang berkaitan dengan jahit, seperti mesin jahit dan keahlian menjahit. Maka, agar pesanan yang dikerjakan bisa selesai sesuai dengan harapan dan kesepakatan, pengusaha jahit akan memberikan sebagian pekerjaannya pada unit usaha lain seperti sablon, potong kain dan unit usaha lain yang berkaitan.

Dengan demikian, jelas jika pelimpahan sebagian pekerjaan ini memang semata-mata dilakukan karena pengusaha tidak memiliki sumberdaya termasuk keahlian lainnya. Ilustrasi dari pelimpahan seperti inilah yang kemudian disebut dengan istilah makloon atau sub kontrak dalam kegiatan usaha pakaian jadi di Jalan Surapati, Bandung. Meski dalam kenyataannya, masih banyak ilustrasi lain yang bisa menjelaskan istilah makloon sebagai bentuk dari sub kontrak.