modal umkm

Berapa modal UMKM? Tak perlu menutup mata jika UMKM memang memiliki keterbatasan dalam hal permodalan. Keterbatasan seperti ini justru dianggap sebagai salah satu faktor utama dalam wacana penguatan Padahal dalam kenyataannya, UMKM masih bisa berdiri dan masih menjadi motor penggerak dalam perekonomian nasional dengan atau tanpa akses permodalan.

Kenyataan lain, bahwa pinjaman atau pembiayaan UMKM yang dikucurkan oleh Bank, biasanya merujuk hanya pada sebagian kecil UMKM. Dengan kata lain, sebagian besar lainnya tentu lebih merepresentasikan bahwa kebutuhan UMKM terhadap bank masih sangat minim. Singkatnya, permodalan bukanlah kendala utama yang dihadapi pelaku dalam UMKM.

Siapa pun tahu, bahwa UMKM adalah bentuk dari usaha yang memilii ketidakpastian terutama dari segi pemasaran. Hal ini terjadi karena UMKM lebih memilih untuk melakukan transaksi langsung yang sifatnya hanaya sekali dan berulang ulang. Berbeda dengan usaha besar yang lebih mengandalkan kontrak sebagai model transaksi yang berkelanjutan.

transaksi

Dengan mode transaksi seperti ini, jelas bahwa produk UMKM memiliki kerentanan dari segi pemasaran. Hal seperti ini, tentu saja akan mempengaruhi mode produksi. Banyak UMKM yang kemudian melakukan produksi setelah ada order atau melakukan produksi setelah sebagian barangnya laku. Satu hal yang berbeda denga usaha besar yang mengandalkan kontinuitas dari metode produksinya.

Dari mode transaksi dan mode produksi seperti ini, jelas jika urgensi UMKM terhadap kebutuhan modal sangatlah kecil. Itulah sebabnya mengapa banyak UMKM yang merasa tak membutuhkan modal untuk melakukan produksi. Sebab modal produksi pada dasarnya bisa didapat langsung saat terjadi pemesanan atau order.

pemasaran

Atas pemikiran di atas, wacana pemberdayaan dan penguatan UMKM seharusnya lebih menekankan pada sektor pemasaran. Permasalahan modal UMKM pada dasarnya akan datang saat pemasaran produk meningkat.

Dengan kata lain, pemaksaan UMKM dalam wacana permodalan sebelum sebelum terbangun jaringan pasar, adalah wacana yang akan menjerumuskan UMKM terhadap status kuo bahkan sangat mungkin mematikan. Mengapa demikian, sebab modal UMKM akan terpaksa untuk terus menerus menanggung beban dari pembiayaan yang diberikan oleh Bank tanpa adanya kepastian pasar.