Radamel Falcao
Setan Merah memang sensasioal, meski dari sisi pencapaian prestasi bisa di bilang melempem tapi di sisi budgeting tetap menjadi nomor wahid. Dengan 196 juta euro yang telah di gelontorkan sampai dengan petengahan tahun 2014 ini mencatatkan MU sebagai klub paling royal dalam urusan transfer pemain.

Dibawah MU ada Barcelona dengan 157 juta euro, kemudian dikuntit Liverpool dengan 149 juta euro. Klub mega bintang Real Madrid tahun ini cukup mengeluarkan 120 juta euro dan menduduki posisi nomor empat.

Pengeluaran fantastis Manchester United ini untuk mendatangkan Angel Di Maria, Luke Shaw, Ander Herrera, Marcos Rojo, Daley Blind, dan Radamel Falcao. Selain mendatangkan para pemain besar klub juga merekrut pelatih baru Luis Van Gaal yang sebelumnya sukses membawa Belanda menjadi juara ketiga dalam Piala Dunia 2014 lalu.

Selain empat klub besar di atas yang rela merogoh kocek di atas 100 juta euro ternyata di seluruh Eropa masih ada tiga klub yang lain. Klub-klub yang boros itu di dominasi dari Liga Inggris dan Liga Spanyol.

Sudah menjadi rahasia umum kalau Liga Inggris dan Liga Spanyol menjadi kiblat sepak bola internasional. Dan Manchester United dan Real Madrid selalu bisa mencuri fokus baik itu dari sisi prestasi klub dan prestasi individu. Tidak cukup berhenti di situ, persaingan juga nampak dari perolehan sponsor dan kemampuan merekrut kemampuan terbaik.

Meski tahun ini MU lebih boros dari Real Madrid tapi kalau di buat statistik ternyata MU berada di urutan ke enam dalam urusan biaya perpindahan pemain. Selama enam tahun Santiago Bernabeu telah mengeluarkan 731 juta euro dan di urutan nomer dua adalah rival sekota MU yang tak lain adalah Manchester City dengan pengeluaran 615 juta euro.

Paling fantastis dalam urusan transfer ini masih di pegang Los Blancos saat memboyong CR7 dan Ricardo Kaka pada tahun 2009 silam. Saat itu La Braugana harus merogoh 265 juta euro.

Sayangnya dari pembelian itu hanya CR7 yang memberikan kontribusi terbaik. Sedang Ricardo Kaka terlalu sering di cadangkan atau sangat jarang menjadi starter dan akhirnya hengkang.