Pemasaran UMKM

Artikel ini akan mengulas tentang pemasaran UMKM. Pandangan umum mengatakan bahwa unsur utama dalam kegiatan usaha adalah modal dan produk. Hal tersebut sangatlah benar jika dilihat hanya dalam tataran produksi. Artinya setiap usaha memang harus memiliki produk dan produk hanya dapat dihasilkan jika memiliki modal. Modal yang dimaksud tentu saja tidak hanya menyangkut peralatan produksi atau sumber daya. Namun termasuk juga di dalamnya pengetahuan.

Unsur utama tersebut, kiranya selalu menghasilkan masalah saat dibenturkan pada proses distribusi atau pemasaran. Bayangkan, jika pengusaha hanya memikirkan produksi tanpa memikirkan jalur pemasaran. Maka, usaha tersebut bisa dipastikan tak akan bertahan. Sebab salah satu dasar kebertahanan usaha adalah terjualnya barang yang diproduksinya yang kemudian diterjemahkan sebagai penghasilan. Karenanya wajar, jika usaha tersebut tak akan bisa bertahan jika tak bisa mengeruk penghasilan.

Pemasaran Sektor UMKM

umkm 1

Kenyataan yang berkaitan dengan pemasaran, lebih banyak dialami oleh sektor UMKM. Kebanyakan UMKM bisa dikatakan memiliki pasar yang tidak jelas. Hal itu tampak sekali dari pelanggan yang datang silih berganti. Bukan pelanggan tetap yang membeli produk dalam jumlah yang banyak. Hasilnya adalah, usaha seperti ini bisa dikatakan sangat rentan sebab menopang usahanya pada ketidakjelasan pasar.

Hal sebaliknya, terjadi pada sektor usaha besar yang memang memiliki target pasar dan pelanggan yang jelas. Dengan keadaan seperti ini, perusahaan bisa terus melakukan kegiatan produksi tanpa dipengaruhi oleh ketakutan barangnya tidak akan terjual.

Untuk mengatasi hal ini, saluran pemasaran yang jelas tentunya sangat diperlukan untuk sebagian besar UMKM yang memang selalu dihadapkan pada masalah seperti ini. Bentuk-bentuk korporasi atau perserikatan dagang biasanya dilakukan dalam upaya mendongkrak kegiatan produksi dan pemasaran. Namun, satu hal yang seringkali dilupakan oleh pengusaha, Indonesia memiliki satu korporasi yang diakui berdasarkan undang-undang yaitu koperasi. Padahal, koperasi sendiri sudah terbukti mampu membuka peluang pasar dan produksi yang jelas untuk keberlangsungan anggotanya.

Dalam tataran ini, koperasi bisa dikatakan sebagai media yang bisa digunakan untuk menyalurkan hasil-hasil produksi anggotanya. Satu hal yang ironis, bahwa dibalik kerentanan UMKM, kehadiran koperasi sebagai wadah usaha yang jelas seolah tak terlalu dihiraukan. Dengan kata lain, belum terjadi satu bentuk keterjalinan yang tegas antara pemasaran UMKM dan koperasi.