143857_kaleemdanibunyayoutube

Seorang anak bertangan raksasa di India, Mohammad Kaleem, harus berjuang untuk meneruskan hidup. “Saya kesulitan saat ingin menggunakan baju, makan, minum, dan menulis. Di sekolah teman-teman pun mengejek saya dan memukuli saya kemudian mereka pergi begitu saja,” tutur Kaleem (8) seperti dilansir Mirror, Rabu (20/8/2014).

Saat ini ukuran telapak tangan Kaleem mencapai panjang 33 cm dan berat 8 kg. Orangtua Kaleem, Shamim (45) dan Haleema (27) tidak bisa berbuat banyak sebab penghasilan keluarga dari upah bekerja sebagai buruh sangatlah minim.

Diejek dan Ditolak Masuk Sekolah
Terlahir sebagai anak bertangan raksasa membuat Kaleem sulit mandiri. Untuk melakukan aktifitas sehari-hari, Kaleem bergantung pada bantuan orangtuanya. Ia tidak bisa mandi sendiri, memakai baju, mengancingkan celana, makan-minum, dan memakai sepatu. Kondisi ini membuat masa depan Kaleem samar-samar. Pasalnya, Kaleem tidak bisa menulis karena sulit menggerakkan alat tulis.

Selain itu usaha ibu Kaleem, Haleema, memasukkan putranya ke beberapa sekolah ternyata sia-sia. Sekolah menolak sebab banyak anak merasa takut dan terganggu. Sungguh berat, dalam keterbatasan hidup keluarga, Kaleem juga harus menghadapi sikap antipati orang-orang di sekitarnya.

Harapan Hidup Normal
Dokter lokal yang sempat menangani Kaleem tidak bisa memastikan penyebab Kaleem menjadi anak bertangan raksasa dan hanya sampai pada kesimpulan tentang kondisi medis tidak normal. Anggapan serupa juga disampaikan oleh Dokter Krishan Chugh dari Fortis Memorial Research, Gurgaon, setelah menyaksikan video dan foto Kaleem. Namun demikian, dokter Krishan Chugh mencurigai terjadinya kelainan sistem getah bening (Lymphangioma) dan tumor jinak yang memproduksi jaringan berlebih (hamartoma). Rangkaian tes kesehatan harus dilakukan untuk memastikan baru selanjutnya bisa diperkirakan tentang tindakan medis paling tepat.

Inspirasi Dunia
Orangtua Kaleem sangat berharap dunia medis dapat membantu mereka menemukan solusi untuk membantu Kaleem. Sudah pasti butuh biaya besar. Shamim dan Haleema pun bekerja lebih keras demi tabungan pengobatan Kaleem. Perjuangan keduanya membesarkan Kaleem sungguh inspiratif dan mengharukan. Mereka selalu mencintai putranya dan rela berkorban apapun. Semoga, perjuangan hidup Kaleem dan keluarganya pada akhirnya bisa memberi inspirasi bagi dunia.