migrant6

Masalah rasisme di Korea Selatan pada faktanya kurang bergaung di dunia. Pasalnya persebaran “gelombang Hallyu” atau budaya Korea melalui industri hiburan dan wisata membuat tampilan negeri Ginseng seolah tanpa masalah berarti secara sosial.

Pekan ini kritik terhadap persoalan diskriminasi dan rasisme di Korea Selatan disampaikan langsung oleh Mutuma Ruteere, anggota PBB yang bertindak sebagai pemerhati masalah imigran di seluruh dunia.

À¯¿£ ÀÎÁ¾Â÷º° Ưº°º¸°í°ü, Çѱ¹ Á¶»ç °á°ú ¹ßÇ¥

Ada dua pokok kritik Ruteere yaitu soal media dan kondisi imigran di Korsel;

Iklan Rasisme

Ruteere menyatakan tingkat parah persoalan rasis dan diskiriminatif di Korsel berada pada puncak “terparah”, demikian disampaikan melalui wawancara dengan laman news24. Media di Korea Selatan secara berulang menayangkan iklan yang merujuk pada pengecilan ras Afrika dengan cara pembedaan warna kulit maupun cara perbandingan tak manusiawi.

Salah satu iklan rokok paling menuai kecaman telah ditarik pada tahun 2013 lalu. Iklan ini mengangkat Poster yang mempromosikan produk terbaru rokok melalui gambar monyet berpakaian ala reporter televisi, lengkap dengan mikrofon dan berkata, “This Afrika atau Afrika telah tiba”.

iklan2

Skandal poster ‘rasis’ tersebut bahkan berdampak sampai Afrika. “Kami merasa tersinggung dengan tindakan KT&G yang tak tahu malu dan menghina dengan gambar yang mengejek itu,” demikian pernyataan African Tobacco Control Alliance — aliansi pengendalian tembakau Afrika dalam pernyataan yang menuntut penghentian iklan.

Perlakuan Diskriminatif Tenaga Kerja Asing

Selain kritik pada media Ruteere juga mengungkapkan, sebagai pekerja kasar, para imigran sering diperlakukan buruk. Diskriminasi terhadap hak-hak pekerja, misalnya dengan mempekerjakan mereka pada sektor pertanian atau perikanan tanpa kecukupan waktu istirahat. Selain itu besar gaji juga sangat minim.

Ruteere juga menemukan fakta jika nelayan non-Korea sering mengalami siksaan melalui kata-kata kasar maupun tindakan tidak menyenangkan lainnya, baik oleh pemilik kapal maupun kapten kapal tempat mereka bekerja.

Persoalan serius ini pada akhirnya tidak menemui solusi karena peraturan dari otoritas setempat kurang peka terhadap nasib para imigran. Banyak pendatang takut melaporkan kekerasan yang menimpa mereka karena cemas kehilangan ijin tinggal di Korea Selatan.

Pada tahun 2015 mendatang seluruh data-data serta laporan dari Mutuma Ruteere akan langsung ditindaklanjuti oleh Komite Hak Asasi Manusia, PBB.

migrant5