Rhenald Kasali Soal Menteri Susi
kompas.com

Menteri Susi memang tidak pernah kuliah di universitas manapun. Namun, banyak orang yang percaya akan kecerdasannya. Salah satunya adalah Rhenald Kasali. Ada tiga kata yang diucapkan Rhenald Kasali soal Menteri Susi.

Sangat cerdas. Jenius,” ujar dia, Jumat (5/12/2014).

Menurut Rhenald Kasali, penilaian yang ia berikan ini menggunakan kacamata “metakognisi”.

Selama ini orang hanya melihat dari aspek kognisi. Banyak orang kognisinya jago, tapi tidak memiliki metakognisi,” tutur Rhenald.

Rhenald melanjutka, metakognisi adalah kecerdasan untuk menggunakan kecerdasan yang dimiliki. Saat ini, banyak orang yang memiliki kecerdasan tapi tidak mempunyai kecerdasan untuk menggunakan kecerdasannya tersbeut. Menurut Rhenald, orang tanpa metakognisi akan mudah mengomel, tidak menghargai orang tanpa gelar, dan arogan. Mereka yang hanya unggul kognisinya tidak memiliki kemampua untuk menjalin kerja sama dengan orang lain.

Kamu lihat deh orang-orang yang sekolah, anak-anak pintar rata-rata duduknya di depan, tidak perlu orang lain, karena dia baca sendiri (sudah) ngerti. Jadi dia tidak perlu orang lain,” ujarnya.

“Nah, oleh karena itu, perlu orang yang memiliki kecerdasan untuk menggunakan kecerdasan yang dimiliki. Itu harus dibangun dari kecil. Itu dia entrepreneurship. Entrepreneurship itu bukan cari uang, tapi mencari solusi kehidupan terhadap persoalan yang dihadapi,” lanjutnya.

Beberapa waktu lalu, Rhenald membahas tentang metakognisi ini. Dalam pembahasan tersebut, ia menjelaskan bahwa metakognisi adalah factor pembentuk yang sangat penting di balik munculnya ilmuwan besar, praktisi andal, serta wirausahawan dunia yang sukses.

Kemampuan untuk menahan diri, disiplin, inisiatif, bergerak, respek, fokus, relationship, serta bisa membedakan antara kebenaran dan pembenaran merupakan fondasi penting untuk pembaruan serta kehidupan yang produktif.

Manusia itu belajar untuk membuat diri dan bangsanya tangguh, bijak mengatasi masalah, mampu mengambil keputusan, bisa membuat kehidupan lebih produktif dan penuh kedamaian. Kalau cuma bisa membuat keonaran dan adu pandai saja, kita belum tuntas mengurai persepsi, baru sekadar mampu mendengar, tetapi belum bisa menguji kebenaran dengan bijak dan mengembangkannya ke dalam tindakan yang produktif,” simpul Rhenald.