foto : tnp.sg. (com).
foto : tnp.sg. (com).

Laporan awal hasil investigasi Air Asia merilis sejumlah fakta baru terkait jatuhnya pesawat tersebut di Selat Karimata, akhir tahun 2014 (28/12). Ketua Investigasi kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501, Mardjono Siswosuwarno, mempublikasikan laporan awal (preliminary report) terkait jatuhnya pesawat berute Surabaya-Singapura tersebut, di kantor Komite Nasional Keselamatan Transportasi, Jakarta, Kamis (29/1).

“Tiga puluh hari setelah kejadian, KNKT diwajibkan untuk mengumumkan preliminary report yang berisi informasi faktual tentang kejadian ini tanpa analisis,” demikian penjelasan Kapten Santoso Sayogo, anggota tim investigasi seperti dilansir oleh CNN Indonesia.

Penjelasan ini berpijak pada rekaman Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR), bagian utama dari Black Box atau Kotak Hitam.

Data Faktual :

1. Posisi Pilot, Co-Pilot, dan Kru :

“Pesawat Diterbangkan Oleh Co-Pilot”

Salah satu fakta terbaru adalah bahwa sejak tinggal landas dari Bandara Juanda, pesawat diterbangkan oleh Co-Pilot asal Prancis, Remi Immanuel Plesel. Sedangkan, posisi Pilot second in command atau pilot monitoring.

Dalam posisi sebagai pilot monitoring, Capten Pilot Irianto duduk di posisi kursi sebagai kiri. Namun demikian, menurut Mardjono, tindakan Co-Pilot bertindak sebagai pilot termasuk hal biasa dalam penerbangan dan dilindungi oleh undang-undang.

Selain itu, seluruh awak pesawat juga memiliki sertifikat kesehatan yang masih berlaku.

2. Kondisi Pesawat :

“Laik Terbang”

Pesawat Airbus A320 bernomor penerbangan PK-AXC, berada dalam kondisi laik terbang dan dioperasikan dalam batas berat dan keseimbangan yang wajar. Tidak ada masalah secara teknis.

3. Ketinggian Pesawat : “Level 32 ribu kaki”

Pesawat sempat menjelajah ketinggian selevel 32 ribu kaki sebelum mengalami masalah

4. Kontak Terakhir“Pesawat Berbelok ke Kiri”

Sempat terjadi kontak awal antara pesawat dengan controller Jakarta. Pada saat terakhir, pilot menginformasikan jika pesawat sedang berbelok ke kiri.

“Pesawat itu terindentfikasi radar di Jakarta dan itu dinyatakan oleh ATC Jakarta,” jelas Mardjono.

Kondisi pada saat membelok, sekitar pukul 23.11 GMT, pilot meminta diberikan flight level yang lebih tinggi, yakni ke ketinggian 38 ribu kaki. Menjawab permintaan tersebut, ATC Jakarta mengatakan stand by (tunggu dulu).

5. Izin Naik :

Pada pukul 23.16 GMT, ATC mengatakan cleares the pilot. “Dalam bahasa Indonesianya, mengizinkan pilot naik ke level 34 ribu kaki,” ungkap Mardjono.

6. Kondisi Cuaca :

Pada saat kejadian tersedia gambar atau foto satelit perihal cuaca yang menunjukkan formasi awan cb dengan puncak berada di sekitar 44 ribu kaki.

7. Posisi Terakhir Pesawat :

“Ketinggian pesawat ketika itu pada level 24 ribu kaki,” papar Mardjono.

Menurut data faktual ini, posisi terakhir pesawat yang ditunjukan layar radar di Jakarta berada pada koordinat lintang selatan 3 derajat 34 menit 48,36 detik dan bujur timur 109 derajat 41 menit 50,47 detik.

Pesawat AirAsia QZ8501 mengalami kecelakaan saat terbang dari Bandar udara Internasional Juanda pada Minggu (28/12) akhir 2014 lalu. Pesawat ini hilang kontak  dan ditemukan terjatuh di atas perairan selat Karimata, Kalimantan Tengah.  Sebanyak 162 penumpang, termasuk pilot, teknis dan kru kapal dinyatakan tewas dalam insiden tersebut.

PEsan cinta1
pesan cinta pramugari Khairunnisa