ospek mahasiswa uin surabaya

Spanduk ospek yang bertuliskan “Tuhan Membusuk” mendapat kecaman keras dari berbagai pihak, terlebih lagi dari ormas-ormas Islam serta para pengguna media sosial di dunia maya. Pihak Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Abdul A’la mengutarakan permohonan maafnya kepada semua elemen yang merasa resah terhada tema orientas mahasiswa bari di Fakultas Ushuludin dan Filsafat. Tema yang dituliskan di spanduk tersebut terlihat melecehkan nama Tuhan.

Pihak Rektorat sudah berdiskusi bersama para mahasiswa UIN Surabaya yang mengambil tema itu. Para panitia ospek mahasiswa tersebut menggunakan istilah “Tuhan Membusuk” tersebut untuk mengkritisi kelompok yang memakai nama Tuhan dalam melakukan hal-hal yang dilarang agama. Tapi ungkapan yang mereka ambil salah, oleh karenanya dianggap sangat meresahkan masyarakat luas.

Tema besar dari ospek yang diselengarakan Fakultas Ushuludin dan Filsafat UIN ini berjudul “Tuhan Membusuk” dan subtemanya yakni “Rekonstruksi Fundamentalisme Menuju Islam Kosmopolitan”. Ospek yang diselenggarakan pada tanggal 29-31 Agustus lalu ini sekarang masih hangat diperbincangkan oleh banyak media komunikasi. Banyak orang yang menyayangkan fenomena buruk ini justru terjadi di kampus yang sarat dengan label Islami.

Sebenarnya pihak rektorat UIN Surabaya sudah memperingatkan para mahasiswa senior yang menjadi panitia ospek di Fakultas Ushuludin dan Filsafat terkait tema yang diusung. Bahkan di hari-hari pertama masa ospek mahasiswa telah ada intruksi untuk membakar spanduk yang bertuliskan kalimat penistaan agama tersebut.

Prof. Abdul A’la mengakui tidak mengetahui bahwa di hari kedua hingga selesainya ospek ternyata spanduk bermasalah tersebut masih dipakai oleh para mahasiswa. Spanduk itu dibawa oleh para mahasiswa baru yang dikenai ospek, seperti yang terlihat di sejumlah foto yang beredar.

Front Pembela Islam (FPI) khususnya yang ada di daerah Surabaya langsung memberikan respon atas kejadian ini. Pihak FPI menilai tulisan “Tuhan Membusuk” yang didoktrinkan pada mahasiswa baru merupakan tindakan kriminal sekaligus penistaan agama. Dikabarkan FPI telah melaporkan kejadian penistaan nama Tuhan ini ke ke Polda Jawa Timur. Menurut FPI, tindakan penistaan ini melukai perasaan umat Islam karena para pelakunya adalah mahasiswa ber-KTP Islam.