Tony Blair mantan Perdana Menteri Inggris sekaligus yang berperan sebagai perwakilan Rusia, AS, PBB, dan Uni Eropa bagi Utusan Timur Tengah, mengungkapkan rencana untuk melepas jabatannya dari peran tersebut. Informasi ini dikutip dari beberapa sumber berita pada Kamis, 28 Mei 2015 yang menyebutkan Tony Blair siap “menyerah” pada Timur Tengah. Blair menjadi Utusan Timur Tengah yang selama beberapa tahun terakhir ini mengupayakan solusi untuk dua negara yang masih konflik, Palestina dan Israel.

Tony Blair I Foto: dish.andrewsullivan.com
Tony Blair | Foto: dish.andrewsullivan.com

Tahun 2007 lalu, begitu Tony Blair meninggalkan Downing Street dari tengat waktu yang hanya sepersekian jam sesudah menerima posisinya sebagai perwakilan Rusia, AS, PBB, dan Uni Soviet di Timur Tengah, langsung menuliskan rencana pelepasan jabatan dirinya dan diserahkan kepada Ban Ki Moon yang tak lain adalah Sekertaris Jenderal PBB untuk kemudian mengonfirmasi hal tersebut. Inilah hal pertama yang mengindikasikan Tony Blair siap “menyerah” pada Timur Tengah

Satu sumber dari orang yang dekat dengan Blair mengatakan, “Jabatan ini akan ditinggalkannya pada bulan depan. Sesudah dia melaksanakan semua komitmen yang masih ada dan tersisa. Namun, meskipun dia sudah melepaskan jabatan dari perannya sebagai perwakilan Utusan Timur Tengah, dengan perannya yang tidak formal, Blair masih akan tetap aktif di wilayah Timur Tengah”.

Tugasnya yang membawa kemajuan sebagai satu solusi antara dua negara konflik yaitu Palestina dan Israel, merupakan keseriusan dan bukti Blair memiliki komitmen untuk membantu komunitas internasional. Selain itu, Blair pun percaya usahanya tersebut akan dapat didukung dengan adanya kerjasama antara pemain-pemain regional, Uni Eropa, AS, dan yang lainnya meskipun dia berperan secara tidak resmi.

Perdamaian antara Israel dan Palestina | Foto: twocents2012.blogspot.com
Konflik Israel dan Palestina masih berlangsung| Foto: twocents2012.blogspot.com

Tentu ada alasan pasti di balik keputusan Tony Blair “menyerah” atau melepaskan jabatan dari perannya sebagai perwakilan di Timur Tengah. Dikutip dari beberapa sumber, Blair menganggap posisi yang ditempatinya sekarang ini terlalu terbatas. Blair merasa bahwa dalam upaya dukungannya terhadap perekonomian serta menjadikan institusi warga Palestina semakin kuat, masih kurang memberikan dampak. Dalam artian masih ada keterbatasan politik untuk Blair dalam upaya mencapai hal tersebut.

Lebih jauh lagi, Blair berpendapat bahwa dibutuhkan satu cara baru dalam upaya mencapai penyelesaian atau solusi untuk Palestina dan Israel, cara tersebut bisa saja dilakukan dengan menggunakan pendekatan baru. Akan tetapi terlepas dari itu, mantan Perdana Menteri dari Partai Buruh ini pun tetap merasa telah mencapai beberapa hal selama delapan tahun terakhir meskipun ada keterbatasan politik dalam perannya.

Di sisa komitmennya, fokus Blair kini adalah tentang bagaimana membangun dan semakin menguatkan hubungan antara Palestina dan Israel secara luas. Setidaknya Blair percaya dengan hal tersebut upaya internasional dalam mengakhiri titik buntu proses perdamaian antara Israel dan Palestina akan sangat terbantu. Sehingga keputusan Blair “menyerah” pada Timur Tengah tetap memberikan kontribusi dalam upaya perdamaian antara dua negara tersebut.

Hal lain yang menjadi fokus Blair adalah tentang memberikan dorongan kepada Israel agar bisa bertanggung jawab pada waga Palestina yang berada di Gaza dengan cara memperbaiki kehidupan mereka. Masih menurut beberapa sumber, dalam memperkuat hubungan Israel dan Palestina, kemajuan memang merupakan hal paling penting yang menjadi penentu tercapainya tujuan tersebut.

Keadaan Palestina (Gaza) Selama Konflik dengan Israel | Foto: jakartagreater.com
Kondisi kota Gaza (Palestina) selama konflik dengan Israel | Foto: jakartagreater.com

Menanggapi dari beberapa sumber yang memberitakan mengenai rencana pelepasan jabatan Tony Blair sang Mantan Perdana Mentri Inggris ini, seorang wartawan diplomatik BBC James Robbins mengatakan bahwa kenyataannya, masa jabatan Blair di perannya tersebut bersamaan dengan adanya harapan untuk proses perdamaian Timur Tengah yang semakin berkurang.

Dari kasus ini, mempelajari mengenai peran Tony Blair terhadap proses perdamaian serta untuk peran berikutnya yang akan diutus setelah Tony Blair, adalah sebuah kemungkinan yang sangat nyata untuk dilakukan oleh Rusia, AS, PBB, dan Uni Eropa. Tambah James Robbins.