wanita amerika serikat
foto: www.nytimes.com

Wanita Amerika Serikat kebanyakan akan berhenti bekerja di luar rumah saat memiliki anak, setidaknya sampai anak mereka sekolah. Kerry Devine seorang wanita 32 tahun melihat perbedaan antara wanita Amerika Serikat dan Eropa. Di Eropa, ia sama sekali tak mengingat temannya yang meninggalkan pekerjaannya setelah anak mereka lahir.

Devine sendiri memutuskan untuk berhenti bekerja sejak memiliki anak pertama, seorang perempuan, 4 tahun lalu karena ia merasa 12 minggu untuk masa cuti tampak terlalu singkat. “Aku tidak ingin meninggalkannya di tempat penitipan anak atau membayar untuk hal itu,” katanya.

Keadaan akan berbeda jika ia tinggal di negara asalnya yaitu Inggris. Seperti banyak negara Eropa lainnya, Inggris menawarkan cuti hamil dan melahirkan selama satu tahun, dan mendapatkan perlindungan untuk pekerja paruh waktu, bersama dengan kebijakan lain yang bertujuan agar wanita tetap bekerja.

Devine mengungkapkan bahwa ia setuju untuk menitipkan anaknya saat mereka berusia 1 tahun tapi tidak untuk bayi berusia 12 minggu. Ia juga mengatakan tentang  adanya waktu kerja yang fleksibel dari rumah akan menjadi perbedaan yang besar bagi pekerja wanita Amerika Serikat. Pemikirannya tersebut dibagikan pada banyak wanita Amerika Serikat.

Pada tahun 1990-an, Amerika Serikat menjadi negara yang memiliki jumlah pekerja wanita tertinggi, tapi kemudian akhirnya turun di belakang negara-negara Eropa. Puncaknya pada tahun 1999, pekerja wanita Amerika Serikat sekitar 74% dari perempuan yang berusia 25 sampai dengan 54, saat ini persentasenya hanya 69%. Di banyak negara lainnya sebenarnya jumlah pekerja wanita terus naik.

Pekerja wanita memang memiliki peranan yang berbeda dengan laki-laki. Pekerja wanita juga harus mampu merawat anak-anak mereka dengan waktu yang tersisa. Selain itu sistem kerja dan masa cuti hamil menjadikan alasan sebagian pekerja wanita Amerika Serikat berhenti  bekerja dan memilih fokus untuk mengurus anak mereka. Tentunya merawat anak dan mengurus rumah tangga memang harus menjadi prioritas bagi seorang ibu atau istri. Jika sistem kerjanya membuatnya kesulitan untuk mengurus rumah tangganya tentunya akan membuat mereka memilih untuk menjadi ibu rumah tangga saja. Ibu rumah tangga sebenarnya juga bisa mencari pekerjaan yang lebih bersahabat, misalnya pekerjaan yang bisa dikerjakan di rumah.